PEMBELAJARAN INKLUSIF GENDER (Endang Sulistyowati S.Pd., M.Pd)


I. PENDAHULUAN

Pembelajaran yang menjamin bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh hak-hak yang sama dibidang pendidikan (inklusif gender) telah memiliki dasar hukum yang kuat karena telah diatur dalam undang-undang. Sebagaimana dinyatakan dalam UURI No. 7 Tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenal Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Sejalan dengan hal tersebut, Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang “Pengarusutamaan Gender” menguatkan keharusan menjamin agar anak laki-laki dan perempuan dapat memperoleh akses dan dapat berpartisipasi serta memperoleh manfaat yang sama dalam pendidikan.

Undang-undang  No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional mengisyratkan bahwa:

  • Bab II Pasal 3 : peserta didik (tanpa dibedakan) dituntut secara aktif untuk mengembangkan potensi dirinya.
  • Bab IV pasal 5 : perlakuan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh pendidikan yang bermutu. Memastikan bahwa peserta didik laki-laki dan perempuan mendapatkan hak yang sama untuk meningkatkan potensi dirinya. Pasal 36 ayat (2) : dinyatakan bahwa “Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

Untuk mencapai tujuan kurikulum  tersebut dikembangkan satu bentuk Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) untuk Sekolah Dasar dan Pembelajaran Kontekstual/CTL (Contextual Teaching and Learning)   untuk Sekolah Menengah.

II. ASPEK-ASPEK PEMBELAJARAN INKLUSIF GENDER

A. Manfaat PAKEM dan Pembelajaran Kontektual Inklusif Gender

Ada beberapa manfaat yang diperoleh dalam pembelajaran inklusif gender. Manfaat-manfaat itu dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Murid laki-laki dan perempuan memperoleh akses, partisipasi, dan manfaat yang sama dalam belajar dengan mengakomodir perbedaan konstruksi gender mereka dalam masyarakat.
  • Tercapainya keadilan gender: murid laki-laki dan permpuan memperoleh hak-hak dalam belajar secara adil, dan dapat belajar secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
  • Murid laki-laki dan perempuan dapat berbagi pengalaman hidup yang dilalui mengingat mereka cenderung memiliki pengalaman yang berbeda.
  • Mengubah marjinalisasi pada salah satu jenis kelamin yang disebabkan oleh kecenderungan tertentu dalam memilih pelajaran kearah kebebasan memilih, menentukan sesuai bakat dan minat.
  • Menguatkan murid yang tertinggal dalam belajar karena hambatan perbedaan gender akibat konstruksi sosial budaya
  • Murid laki-laki dan perempuan memiliki pilihan peran yang lebih beragam dari peran-peran tradisional tanpa hambatan budaya dalam kehidupan mereka setelah dewasa.

B. Karakteristik PAKEM dan Pembelajaran Kontektual Gender

Beberapa karakteristik PAKEM/CTL inklusif gender berserta indikatornya diuraikan sebagai berikut:

No Karakteristik Indikator
1 Berpusat pada peserta didik Murid laki-laki dan perempuan secara aktif dalam mengemukakan gagasan, bertanya, dan mengkritisi gagasan yang lain tanpa perasaan minder (inferior) atau lebih hebat (superior)
2 Mengembangkan kreatifitas Murid laki-laki dan perempuan mampu mengembangkan dan menciptakan gagasan tanpa dibatasi oleh peran-peran baku (stereotype), misalmya : partisipasi dalam pelajaran tidak didominasi oleh anak laki-laki. Murid laki-laki dan perempuan mampu berfikir mengkaitkan dengan apa yang dialami.
3 Menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang Murid laki-laki dan perempuan dapat menciptakan rasa saling menghormati, menghargai teman yang berbeda jenis kelaminnya. Keduanya aktif mengkritisi gagasan yang berbeda karena perbedaan pengalaman sebagai laki-laki dan sebagai perempuan
4 Kontekstual Murid laki-laki dan perempuan memiliki peluang untuk dapat menghubungkan materi pelajaran dengan konteks kehidupannya. Keduanya mampu membedakan perbedaan kondisi sebagai anak laki-laki dan anak perempuan akibat konstruksi sosial.

 

Guru memfasilitasi murid laki-laki dan perempuan tanpa diskriminatif untuk membangun sendiri konsep-konsep yang sedang dipelajari.

5 Menyediakan pengalaman belajar yang beragam Guru mampu memfasilitasi cara belajar murid laki-laki dan perempuan secara beragam, karena keduanya mempunyai pengalaman perlakuan yang berbeda akibat konstruksi sosial.
6 Belajar melalui berbuat Murid laki-laki dan perempuan mampu mencoba dan melakukan sendiri apa yang sedang dipelajari.

 

Guru memberikan kesempatan dan peran yang sama kepada keduanya. Jika partisipanya mereka tidak seimbang maka guru mampu mendorong murid laki-laki ataupun perempuan yang kurang aktif dan tertinggal.

7 Inti pembelajaran adalah menemukan (inkuiri) bukan mengingat Murid laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan yang sama, dan aktif mengajukan pertanyaan, membuat dugaan, mengumpulkan data-data serta mengambil kesimpulan.
8 Kerja kelompok (Kooperatif) dan kompetitif Terdapat kelompok-kelompok yang anggotanya terlibat aktif dalam bertukar gagasan dan pemecahan masalah bersama dengan jumlah anak laki-laki dan perempuan secara seimbang. Keduanya mampu bekerjasama tanpa ada subordinasi dan marjinalisasi jenis kelamin tertentu.

 

Guru mampu mendorong murid laki-laki dan perempuan berlomba untuk maju, dan terampil memadukan strategi pembelajaran kompetitif dan kooperatif.

9 Pemodelan (contoh yang baik) Diupayakan ada contoh, model, peragaan atau demonstrasi yang dapat memudahkan murid laki-laki dan perempuan memahami konsep.

 

Pemodelan menghindari pelabelan (Stereotype), dan substansinya tidak bias gender.

10 Refleksi (menilai kemampuan diri) Pada akhir pelajaran guru memberikan kesempatan yang sama berdasarkan murid laki-laki dan perempuan untuk memberikan masukan terhadap proses pembelajaran yang telah dilalui.
11 Evaluasi Guru melakukan penilaian pada murid laki-laki dan perempuan dengan instrumen dan kriteria penafsiran yang sama.

 

C. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan PAKEM dan CTL Inklusif Gender

Prinsip-prinsip Pengembangan Pembelajaran Inklusif Gender meliputi:

Kesamaan akses/kesempatan bagi laki-laki dan perempuan
  • Murid laki-laki dan perempuan mendapat kurikulum dan kegiatan yang sama untuk semua mata pelajaran tanpa membedakan misalnya elektro hanya untuk murid laki-laki dan tata boga untuk murid perempuan.
  • Murid laki-laki dan perempuan mendapatkan gedung dengan mutu gedung yang sama, guru dengan kualitas yang sama dan peralatan dengan mutu, jenis, dan jumlah yang sama.
Kesamaan partisipasi/peran serta laki-laki dan perempuan
  • Murid laki-laki dan perempuan sama-sama aktif ikut serta dalam kegiatan selama proses belajar-mengajar di semua bidang studi.
  • Murid laki-laki dan perempuan mempunyai sikap dan minat yang sama di semua bidang studi tanpa ada kesenjangan yang berarti diantara keduanya.
Kesamaan kontrol/tanggungjawab laki-laki dan perempuan
  • Murid laki-laki dan perempuan diberi tugas dan tanggungjawab yang sama pada setiap kegiatan proses belajar mengajar di semua bidang studi
  • Murid laki-laki dan perempuan diberi tanggungjawab yang sama untuk menjadi pemimpin ditingkat sekolah, kelas, dan kelompok.

 

Prinsip Pelaksanaan Pembelajaran Inklusif Gender

Dalam melaksanakan pembelajaran inklusif gender, ada bebrapa prinsip yang perlu diperhatikan yaitu:

a.       Memahami sifat yang dimiliki anak laki-laki dan perempuan.

 

Memahami sifat rasa ingintahu dan berimajinasi murid sebagai modal dasar berfikir kritis dan kreatif. Guru harus menunjukkan sikap yang adil terhadap anak laki-laki dan perempuan seperti memberikan pujian, memberikan dorongan berkembang, termasuk melakukan percobaan yang menantang untuk keduanya.

 

b.      Mengenal anak laki-laki dan perempuan secara perorangan.

 

Para murid berasal dari lingkungan keluarga yang berbeda dan memiliki kemampuan yang berbeda pula. Inklusif gender dalam PAKEM adalah memperhatikan perbedaan kecenderungan belajar anak laki-laki dan perempuan. Karena proses sosialisasi dan permainan yang berbeda maka anak laki-laki lebih mudah beradaptasi dengan cara belajar yang kompetitif, sedangkan anak perempua lebih nyaman dengan pola belajar kolaboratif. Idealnya untuk menguatkan kemampuan bekerjasama dalam tiem. Sementara anak perempuan didukung untuk dapat belajar secara kompetitif agar mereka memiliki motivasi untuk bersaing dengan sehat.

 

c.       Memanfaatkan perilaku murid laki-laki dan perempuan dalam belajar.

 

Pada kelas campur, dalam pembentukan kelompok perlu diperhatikan keseimbangan jumlah anak laki-laki dan perempuan. Sangat penting mengajarkan mereka bersikap santun kepada teman beda jenis kelaminnya, menghargai pendapat yang berbeda dan sikap yang bekerja sama secara setara antara murid laki-laki dan perempuan sejak dini sehingga mereka kelak dapat menerapkan pada dunia kerja dan kehidupan berkeluarga. Perlu diperhatiakan bahwa metode pengelolaan kelompok campur tidak juga selamanya ideal untuk diterapkan. Adakalanya, dalam pengelompokan campur, anak laki-laki menjadi dominan dan anak perempuan hanya menyaksikan atau sebaiknya. Oleh sebab itu, untuk mendorong keduanya secara aktif diperlukan pengelompokan terpisah dan homogen secara gender.

 

d.      Mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah bagi anak laki-laki dan perempuan

 

Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak laki-laki maupun perempuan sejak lahir. Namun kebanyakan anak perempuan menjadi lebih pasif karena mereka disosialisasikan untuk menjadi anak yang santun. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya antara lain dengan sesering-seringnya memberikan tugas dan mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika ……….” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu). Namun karena anak perempuan tidak terbiasa bersikap ekspresif maka guru harus membantu menguatkan kemampuan tersebut misal dengan memberi waktu untuk menuliskannya.

 

e.       Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik bagi anak laki-laki dan perempuan

 

Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan murid, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. Hasil pajangan perlu dilihat/dibaca terlebih dahulu oleh guru sebelum dipajang untuk memastikan agar hasil karya tersebut tidak mengandung unsur yang melecehkan salah satu jenis kelamin. Pastikan pajangan adalah hasil karya murid laki-laki dan perempuan secara seimbang.

 

f.       Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar yang menarik bari murid laki-laki dan perempuan

 

Lingkungan (fisik, sosial, dan budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai obyek kajian (sumber belajar).

Hadirkan sumber belajar laki-laki dan perempuan secara bergantian untuk memberikan contoh bahwa kedua jenis kelamin tersebut memiliki kapasitas yang sama. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.

 

g.      Memberikan umpan balik yang tepat untuk meningkatkan kegiatan belajar murid laki-laki dan perempuan

Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada murid merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan murid. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan dari pada kelemahan murid. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksud agar murid lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaaan murid dan memberikan komentar dan catatan. Pemberian umpan balik harus berfariasi misalnya melalui lisan, tulisan atau media yang lain agar dapat menggakomodir perbedaan sikap dan kondisi sosialisasi anak laki-laki dan perempuan yang berbeda. Demikian pula perbedaan keluarga dimana keluarga terpelajar mungkin lebih terbiasa memdapat umpan balik dengan tulisan, tetapi keluarga yang lain mungkin lebih tepat dengan secara lisan.

 

h.      Membedakanantara aktif fisik dan aktif mental murid laki-laki dan perempuan

 

Karena proses sosialisasi yang berbeda sejak dini, anak laki-laki dan perempuan cenderung mengembangkan aktifitas fisik dan mental yang berbeda, perbedaan aktifitas tersebut seringkali berpengaruh terhadap proses belajar. Guru dalam merancang pembelajaran hendaknya mempertimbangkan perbedaan tersebut. Umumnya anak laki-laki lebih aktif dan ekspresif dibandingkan dengan murid perempuan. Syarat aktif perkembangan mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika bersalah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru atau sesama teman. Ketika murid perempuan menjawab salah, sering kali teman laki-laki mengolok-oloknya. Apabila ini dibiarkan terjadi, hal ini akan mengakibatkan murid perempuan takut berpendapat, takut dinilai buruk, takut melakukan kesalahan yang berdampak buruk terhadap perkembangan kejiwaan.

Terkait dengan hal diatas, ada beberapa hal yang perlu dilakukan guru dalam melaksanakan PAKEM atau CTL inklusif gender.

a.       Guru memiliki sensitifitas gender sehingga bisa mengenali kurikulum, bahan ajar dan media yang bias gender dan melakukan penyesuaian-penyesuaian.

b.      Guru menyusun rencana pembelajaran (RPP) yang inklusif gender dengan memperhatikan kecenderungan belajar yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Sehingga sebaiknya rencana pembelajaran ini dibuat per kelas karena kecenderungan belajar anak laki-laki dan perempuan bisa saja berbeda tiap kelas.

c.       Guru menyiapkan bahan ajar dan media yang tidak bias gender.

d.      Guru mengelola kelas berdasarkan kebutuhan anak laki-laki dan perempuan yang diakibatkan oleh karena kecenderungan belajar yang berbeda akibat konstruksi sosialnya.

e.       Guru memakai metode mengajar dan evaluasi yang bervariasi sehingga dapat mengakomodir perbedaan kecenderungan belajar anak laki-laki dan perempuan

f.       Guru menganalisis hasil evaluasi belajar murid secara terpilah antara anak laki-laki dan perempuan agar bisa memperbaiki pembelajaran dan menentukan strategi yang tepat untuk mengurangi kesenjangan anak laki-laki dan perempuan

g.      Guru memberikan tugas-tugas yang sama pada anak laki-laki dan perempuan tanpa pembedaan untuk memberikan pengalaman belajar yang sama.

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MEMANG BEDA,

TAPI

TIDAK UNTUK DIBEDA-BEDAKAN

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Muthali’in Ahmad, 2001, Bias Gender dalam Pendidikan (Surakarta: Muhammadiyah University Press)

 

Myra Sadker Advocates., Gender Equity Activities for Teachers. www.sadker.org

 

Parker, Lesley dan Leonie J Rennie, (2002, “Teacher’s Implementation of Gender Inclusive Instructional Strategies in Single Sex an mixed Sex Science Classrooms”, International Journal of Science Education, 2002, vol 24, no, 9, 881-897)

 

Targan, David, 1996, “Achieving Gender Equity in Science Classrooms: A Guide for Faculty”. www. Brown.edu/administration/Dean_of_the_college/.

 

Toliman, Mary, 2002, Gender Inclusive Curriculum (PNG: National Departement of Education).

 

Plan-Indonesia dan Swa Bina Qualita Indonesia Jawa Timur, 2004. Panduan Penulisan Buku Ajar Berwawasan Gender, Pendidikan Ramah Anak dan Pemenuhan Hak Anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s